Ganti Judul dan ALt sendiri

Hati-hati Dengan Kata-Kata

     Sore menuju malam ini, saya teringat akan sebuah pepatah. Jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu harus mengatakan maaf. Ya. Perihal berbicara memang bukan perkara yang mudah. Dulu ketika kita masih kecil, diajari oleh orang tua untuk mengeja, menyusun kata, lalu membuat kalimat. Dan akhirnya, kita pun bisa menyampaikan maksud dengan berkata-kata. Tetapi, tidak jarang salah dalam berkata-kata bisa menjerumuskan orang. Salah berkata bisa membuat orang lain sakit hati. Dan salah berkata bisa membuat orang menjadi miskomunikasi, dan akhirnya pesan tidak bisa tersampaikan dengan baik.

    Pepatah lain mengatakan, kata-kata lebih tajam daripada pedang. Mereka yang tidak bisa mengusik orang lain dengan perbuatan, mungkin mengalihkannya dengan mem-bully, mengolok-olok, mencemooh. Para pem-bully itu menyerang mental dan hati mereka. 

    Jika dalam agama islam kita mengenal, bahwa hati adalah pusat dari smua tubuh kita. Meskipun ia hanyalah segumpal daging, tetapi jika ia baik, maka akan baiklah seluruh jiwa raga manusia. Begitupun sebaliknya jika sudah kadung buruk, maka untuk memulihkannya memerlukan waktu yang tak sebentar.

    Kembali kepada pepatah pertama tadi, maka sebaiknya kita harus berhati-hati. Kita harus melihat-lihat siapa lawan bicara kita. Jangan sampai kita mengatakan sesuatu yang pada akhirnya harus membuat teman kita sakit hati, dan mengharuskan kita untuk meminta maaf. Mungkin kata-kata yang kita keluarkan dari mulut kita terkesan biasa saja. Tetapi sebelum kita ucapkan, silakan berfikir terlebih dahulu, bagaimana jika kita adalah pendengar? Dan bagaimana kira-kira reaksi si pendengar? 

    Ketika seseorang mengucapkan suatu kalimat yang menyakitkan hati, mungkin dengan berlalunya waktu, ia bisa menghapus memorinya itu. Namun, rasa sakit yang pernah ada bisa jadi suatu saat akan kembali lagi. Saya mengibaratkan hati seperti sebuah tembok. Kata-kata yang menyakitkan hati diibaratkan sebagai paku. Jika paku telah ditancapkan ke tembok, maka yang terjadi adalah tembok akan berlubang. Meskipun paku telah dicabut, tetapi lubang dalam tembok itu masih ada. Perlu waktu dan tenaga untuk menutupnya kembali. Jikapun sudah mulus, kita masih akan tahu dimana lubang yang pernah ada itu.

    Diam, bisa jadi sebuah pilihan ketika kita belum mampu mengucapkan kata-kata yang baik. Diam bisa menjadi piliha  ketika kita berusaha untuk menahan amarah. Dan diam, bisa jadi pilihan setelah berlalunya waktu merenung, memikirkan rangkaian kata yang tepat. Hati orang hanya satu. Maka jangan sampai kita termasuk orang yang menancapkan paku ke dalam tembok orang lain. Sebaliknya, hati kita hanya satu. Maka kita perlu menjaga dari sesuatu yang membuatnya sakit. 

1 comment

  1. Ya Allah, bener banget ini mah.... Kelajuan mulut tak sebanding dengan kelajuan pikiran jadi mulut nyerocos aja nggak mikir akibatnya.

    ReplyDelete