Ganti Judul dan ALt sendiri

Menghidupkan Kembali Komitmen (Part 5)


Meminimalkan Interaksi dengan Smartphone

Disadari atau tidak, kini kehidupan kita sudah tidak bisa terlepas dari barang yang bernama smartphone. Dulu, ketika saya masih belum memiliki facebook, sekitar tahun 2007, saya masih awam, dan sudah mendengar istilah, bahaya kecanduan facebook. Lalu saya bertanya-tanya, apa itu ya facebook? wajah dan buku?

Semakin ke sini, smartphone ini ternyata membuat kehidupan kita semakin mudah. Belanja, pesan makanan, menanyakan kabar, bahkan pekerjaan pun, bisa dilakukan melalui smartphone. Dan ini, menurut pendapat saya, kita sudah mulai tergantung dengan keberadaannya.

Bangun tidur, apa yang pertama kali kita cari? Ketika akan bepergian ke luar rumah, apa yang kita pastikan ada? Sampai di kantor, apa yang pertama kali kita cek? Dan sesaat sebelum tidur, apa yang kita pastikan aman-aman saja? Smartphone bukan? Iya. Saya tidak berusaha men-judge bahwa itu semua buruk. Saya merasa bahwa keberadaannya sangat membantu kita. Akan tetapi, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar kita tidak terlalu kecanduan smartphone.

Apakah itu? 

Pertama. Ketika intensitas interaksi kita dengan smartphone melebihi interaksi dengan keluarga kita, kita harus waspada. Gejalanya apa? Suami sering marah-marah, atau istri sering marah-marah, atau Bapak/Ibu marah-marah ketika kita memegang handphone. Bahkan ada yang menyebut, seorang suami yang terlalu sering bermain handphone, ia telah menjadikannya seperti istri kedua. :(

Kedua. Apabila kita sudah sangat tergantung dengan handphone dan menjadikan kita menjadi sangat termperamen. Kok bisa? Bayangkan saja, smartphone kini sangat memanjakan kita. Dengan sedikit sekali sentuhan, ia akan menjalankan apapun perintah kita. Dengan syarat baterainya penuh dan internet stabil ya Hahaha. Kecuali kalau kita memakai handphone monokrom seperti nokia atau sony ericson jadul. Lambat laun, kita jadi sedikit kurang sabar apabila kita menginginkan sesuatu tidak sesigap smartphone. Teori ini jugalah yang menurut saya menjadikan alasan kenapa anak kecil tidak boleh berlama-lama di depan smartphone. Karena akan berimbas pada perilakunya jangka panjang.

Ketiga. Pastikan aplikasi yang diinstal di handphone adalah yang benar-benar kita butuhkan. Jangan semua-muanya tumpek blek kita install. Dari mulai e-commerce, games, aplikasi tracker, google meet, hangout, atau apapun kita install semua. Yang ada, Selain kita kelelahan karena "merasa memiliki" banyak aplikasi yang harus dicek, handphone kita juga kasihan bukan.  Jangan buang-buang waktu kita mengurusi aplikasi yang tidak penting hehehe..

Keempat. Untuk aplikasi-aplikasi yang tidak terlalu penting, tegalah untuk menghapusnya. Kalau masih bingung, tunggu saja sampai sebulan. Jika dalam jangka waktu sebulan kita tidak pernah membuka aplikasi itu, un-install saja. Artinya kita memang tidak membutuhkannya dan bisa hidup tanpanya. 

Kelima. Jika anda memiliki lebih dari satu smartphone, jika tidak lagi dipakai, ikhlaskan sajalah untuk disumbangkan ke keluarga lain, atau dijual. Untuk apa kita memelihara banyak hardware. Itu akan membuat kita menjadi repot dan tidak fokus. Insyaallah handphone yang tidak terpakai itu akan sangat bermanfaat untuk orang lain. 

Mungkin itu sedikit tips-tips untuk berinteraksi dengan smartphone, agar kita tidak termasuk ke dalam kategori "kecanduan". Mari kita mulai lagi komitmen untuk mengurangi interaksi dengan smartphone. Cobalah dulu dalam waktu seminggu, dan rasakan perubahannya. Kita akan dapat terlepas dalam kehidupan dunia maya kita, dan kehidupan yang serba gadget, dan kembali menikmati kehidupan nyata kita yang sebenarnya. Jalan-jalan keliling. Membaca buku. Fotografi. Menjahit. Memasak. Merajut. Atau apapun. Real life kita akan lebih menyenangkan, tanpa harus berlama-lama dengan smartphone.

Semoga bermanfaat :)

Post a Comment