Ganti Judul dan ALt sendiri

Ruminten (Episode 7)


 
“Santos, kayaknya kita harus kembali ke Lebong, deh.”, kata Rum.

“Lha, kenapa Mbak?”

Nametag-ku ketinggalan di rumah yang tadi aku menginap.”

“Astaga, Mbak. Yasudah ayo aku antar lagi, untung kita belum lama dari Lebong.”

Setelah membayar sarapannya di warung tadi, Rum dan Santos kembali ke Lebong lagi. Ia mencoba mengamati titik dimana dia menginap tadi malam. Eh ternyata malah kebablasan. Dan ternyata, dia melihat penginapan Mawar yang dia pakai untuk menginap tadi malam sudah dipenuhi dengan garis polisi.

“Mbak, itu kan yang tadi malam Mbak pakai menginap kan?”, tanya Santos kepada Rum.

“Yang mana? Eh,,, iya, kok aneh banget ya. Kenapa malah jadi penuh dengan garis polisi?”

Rum dan Santos pun akhirnya memarkirkan mobilnya di dekat penginapan Mawar. Sementara tujuan Rum mencari nametag sudah terkaburkan oleh dengungan suara mobil polisi dan kericuhan orang-orang di dekat penginapan itu.

Nenek yang diduga oleh Ruminten tadi malam, ternyata sudah meninggal di samping penginapannya. Siapa yang membunuh dan modus apa yang dilakukan, ternyata masih menjadi pertanyaan polisi.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah mobil berwarna hitam mendekat. Ruminten melihat dari kejauhan, dan ternyata itu adalah mobil Pak Arya. "Ada apa dia datang kesini,", gumamnya. Ruminten terus berdoa semoga dia tidak terlibat dalam kejadian ini. Meskipun dalam hati Ruminten menyimpan banyak pertanyaan, ia ingin mengubur itu semua dan menyimpannya dalam kenangan yang tak ingin ia bongkar kembali.

"Mbak Rum, akhirnya kita bertemu di sini.", ucap Arya sambil mendekati Ruminten. 

"Waktu saya mungkin tidak akan lama lagi, saya akan memberikan sesuatu kepadamu.", tandas Pak Arya sambil mendekati Ruminten.

Ada apa dengan Pak Arya? Kenapa dia memberikan dokumen? Emang sebentar lagi apa yang akan dia lakukan? Banyak pertanyaan melintasi kepala Ruminten.

***

Ruminten dan Santos menunggu waktu yang tepat untuk kembali masuk ke penginapan. Tetapi, sepertinya waktu sudah tidak cukup. Ruminten berfikir untuk kembali saja ke kantor. Soal nametag itu mudah, ia bisa meminta kepada Kantor Bengkulu untuk mencetakkan kembali. 

Suasana hari itu menjadi semakin sendu. Berkas yang diberikan oleh Pak Arya kepada Ruminten tadi, ternyata adalah berkas dokumen penting mengenai kebun kopi yang dikelola Pak Arya. Belum sempat ia mengembalikan dokumen itu kepada Pak Arya, Pak Arya telah mendekati polisi. Entah apa yang membuat lelaki itu menyerahkan diri kepada polisi. Apakah Pak Arya telah mengakui kejahatannya tentang usaha kebun kopi di Kepahiang? Entahlah, gumam Ruminten dalam hati.

Ruminten masih saja melamun dan memikirkan nasib Nenek yang dibunuh tadi malam. Kalau-kalau saja ia tidak berteriak dan lari, menganggapnya sebagai hantu, mungkin Ruminten sudah bisa membantu menjaga nenek dari orang jahat. Nasib nenek akan tertolong. 

"Sedih sekali nenek itu, " ucap Ruminten kepada Santos.

Santos pun menawarkan kepada Ruminten untuk menunggu sebentar karena ia akan membeli makan di dekat tempat duduknya itu. Ya, waktu sudah memasuki siang hari tetapi mereka berdua juga belum kembali ke tempat kerja.

"Mbak, gimana kalau kita kembali segera ke Kepahiang?. Biarlah urusan Pak Arya polisi yang mengurus.", kata Santos.

Tetapi, Ruminten tidak ingin pergi begitu saja. Dia tidak menyetujui penawaran investasi yang diberikan Pak Arya kepadanya, tetapi mengapa malah diberikan segepok dokumen?

Tak lama kemudian, dua orang polisi menghampiri Santos dan memborgolnya.

"Ppp.. Pak. Kenapa saya diborgol?", kata Santos sambil menghindari dari tangan polisi yang siap menangkapnya. Seluruh tipu daya Santos ternyata sudah tercium oleh polisi. Rencana pembunuhan untuk kesekian kalinya telah tercium oleh polisi. Bahkan, sidik jari yang ditemukan pada jasad nenek yang meninggal tadi malam, pas dan cocok dengan Santos. Ditambah satu hal, bukti dan dokumen yang diberikan oleh Pak Arya semakin meyakinkan polisi bahwa Santos adalah dalang dibalik ini semua.

Ruminten tidak berkata-kata. Dia lebih memilih diam dan menyimpan pertanyaan dalam hati.

"Mbaak, tolong aku Mbaak. Kenapa aku yang ditangkap, Mbak?", teriak Santos.

Ruminten masih berdiri dan menatap Santos dengan tatapan kosong. Ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Santos, dan membiarkan polisi membawanya pergi. Dari jauh terlihat Santos meronta-ronta, dan ingin kabur dari tangkapan polisi. Tetapi satu keyakinan Ruminten, dia berhasil menemukan orang yang membuat separuh hatinya pergi dari dunia untuk selama-lamanya. Ruminten berhasil membalaskan dendam suaminya untuknya.

***

Pukul 23.30, tanggal 10 Maret 2013. Beberapa hari setelah upacara pemakaman suami Ruminten di Bengkulu, seseorang memberikan pesan kepadanya. Seorang lelaki yang merupakan pengusaha kopi terkenal di Kepahiang, yang ia kenal betul.

"Mbak Rum. Jangan salah paham dengan saya. Saya memang jahat, tapi saya tidak membunuh orang. Saya hanya mendewakan uang, dengan cara apapun. Kalau Mbak Rum mau tahu siapa pelakunya, datanglah ke kantor di Ujan Mas. Sampai saatnya tiba, saya akan membuat dia membayar perilakunya sendiri. Tapi dengan satu syarat, Mbak Rum harus membantu saya di perkebunan ini sebagai imbalannya." 

Berkeyakinan dengan pesan dari orang yang tidak dia sukai itu, iapun berangkat dan membatalkan promosinya ke daerah lain. Dengan segala usahanya, akhirnya ia dikukuhkan sebagai kepala kantor di Ujan Mas. Hal itu ia lakukan tidak lain dan tidak bukan untuk mencari siapa pembunuh suami seseungguhnya. Meskipun pencarian itu tidak memakan waktu yang singkat, Ruminten bersikukuh melakukan segala cara untuk menemukan pelakunya. 

***

Ini adalah hari yang sangat Ruminten tunggu-tunggu. Ia ingin segera pulang, memasuki kamar yang ia siapkan khusus menyimpan barang-barang suaminya. Ia ingin menumpahkan semuanya disitu. Rasanya sungguh lega, mengetahui bahwa Santos adalah pelaku yang membunuh suaminya. Dia masih ingat betul, darah yang menggenangi baju suaminya, dan rasa yang tidak bisa tergambarkan ketika mengetahui suaminya dibunuh orang. Air mata dan jeritan yang dia keluarkan, telah membanjiri celemek yang baru saja ia kenakan setelah membuatkan masakan untuk suaminya tadi.

Sepanjang perjalanan Lebong ke Ujan Mas, pikirannya dipenuhi banyak hal. Entah apa yang akan ia katakan kepada rekan kerjanya nanti. Entah bagaimana cara menjelaskan kepada rekan kerjanya dan membuktikan bahwa Santos lah yang membunuh suaminya. Tetapi, sidik jari, rekaman, dan dokumen yang diberikan Pak Arya kepadanya tadi sudah cukup memberikan hukuman yang setimpal untuk Santos.

Sesampainya di rumah, dia memakirkan mobilnya di depan kontrakannya yang sederhana. Dia memasuki rumahnya dan kembali mengucapkan "Assalamuaalaykum,", serta langsung menuju sebuah kamar yang ia sebut kamar tempat bayangan suaminya berada.

"Mas, akhirnya, aku....", belum lama ia melanjutkan cerita sendirinya itu, ia tak kuasa menahan tangis. Iapun melepaskan dirinya ke dalam tangisan itu. Ia merasa suaminya hadir bersamanya dan bisa mendengar seluruh kata-katanya.

"Tapi, Mas. Aku sudah tidak punya alasan untuk berada disini lagi... aku ingin membersamaimu di alam sana. Agar perjalanan kita lebih menyenangkan, aku kunci pintu dulu ya, Mas. Aku tidak ingin perjalananku menemuimu ada yang menggangguku."

Di tengah kamar itu, Ruminten telah menyiapkan sebuah kursi dan tali rotan  yang sudah terikat dengan tiang. Masih dengan baju dinasnya, Ruminten menaiki kursi itu, menaruh tali dan memasangkan wajahnya pada tali itu, dan mengikat lehernya kencang. Setelah menaiki kursi itu, dia pun menendangnya.

"Ggggg... Mas Parno, tunggggguuu akkkuuuu..."

Belum sepuluh menit Ruminten bersuara, jeratan tali rotan yang menggantung lehernya membuat nafasnya telah terhenti. Ruminten akhirnya berhasil menyusul suaminya yang pergi lima tahun yang lalu. Dia meninggal dunia dalam keadaan telah membalaskan dendam kepada Santos dan memasukkannya ke penjara.


--- Tamat---

1 comment