Ganti Judul dan ALt sendiri

Menemukan Tan Malaka, Dalam Cerpen "Dari Gunuang Omeh, ke Jalan Lain di Moskow, Menuju Hukuman Mati di Kediri"

   Memasuki pekan keempat di tantangan menulis bersama ODOP, kami mendapatkan tantangan untuk menuliskan sedikit pendapat dari sebuah cerpen. Cerpen yang saya pilih dituliskan oleh Heru Sang Amurwabumi, sosok yang luar biasa yang juga merupakan founder dari Komunitas One Day One Post. 

    Cerpen ini berjudul Dari Gunuang Omeh, ke Jalan Lain di Moskow, Menuju Hukuman Mati di Kediri. Dari judulnya saja, sekilas yang terbersit adalah cerpen mengenai sejarah. Kebetulan sekali, saya sedang menyukai hal-hal berbau sejarah, hehehe. Sebelum saya membaca cerpen ini, saya berpikir cerpen ini akan berlatar belakang di tiga tempat. Gunuang Omeh, Moskow(Rusia) dan juga Kediri, Jawa Timur.

    Saya menyelesaikan membaca cerpen ini sekitar lima belas menit. Langsung paham maksudnya? Ternyata tidak. Di tengah-tengahnya saya ternyata memerlukan bantuan mbah google, karena memang saya agak kepo dengan ending-nya. Hehe.

    Dari beberapa paragraf awal, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, "dia". Sementara, di beberapa paragraf berikutnya, penulis menggunakan sudut pandang "aku."  Di sini sebenarnya saya sedikit bingung, sebelum akhirnya saya menebak siapakah aku dan dia dalam cerpen ini.

    Membaca cerpen ini memang tidak serta merta saya bisa mengartikan pesan yang dimaksud dalam cerpen ini. Membaca cerpen ini serasa kita memasuki Indonesia yang baru awal berdiri dan bersinggungan dengan Partai Komunis Indonesia. Bagi kita yang sama sekali awam sejarah, tepatnya, sudah agak lupa dengan peristiwa sejarah, akan sedikit mengernyitkan dahi, jika kita tidak memahami cerita sebelum dan cerita sesudahnya dari cerpen ini.

    Cerpen ini mengisahkan tentang seorang pahlawan Indonesia, yaitu Tan Malaka. Di beberapa kalimat, penulis telah memperkenalkan latar belakang, pendidikan, dan karya beliau sebelum akhirnya beliau dianggap sebagai pengkhianat. Dari beberapa sumber yang menyebutkan, memang Tan Malaka lebih banyak menghabiskan waktu di pengasingan. Beberapa tempat pengasingan yang pernah dilaluinya adalah Belanda, Kupang, Belanda, dan akhirnya kembali lagi ke Indonesia.

    Karena bertemakan sejarah, cerpen ini memang sedikit banyak mengingatkan kembali mengenai istilah-istilah penting. Seperti Rijkskweekschool, de Fransche Revolutie , dan Madilog. Istilah-istilah yang sebagian besar memang berasal dari Bahasa Belanda. Meskipun begitu, penulis telah membantu menjelaskannya di catatan kecil, sehingga pembaca terbantu untuk mengartikan apa istilah tersebut.

    Dari cerpen ini, pelajaran yang dapat diambil adalah, begitu besar dan beratnya perjuangan para pahlawan, bahkan setelah kemerdekaan. Dengan pemikiran intelektual dan karya-karya pahlawan yang tidak hanya menyumbangkan pemikiran, tetapi juga pergelutan melawan penyiksaan jasmani yang tidak bisa kita bayangkan seperti apa rasanya. Pahlawan, bukan hanya mereka yang tertulis namanya dalam daftar buku sejarah. Dengan mempelajari sejarah satu demi satu dan dengan terperinci, kita akan menemukan beberapa orang yang sebetulnya adalah pahlawan, meskipun tidak pernah diungkap. Bukan hanya label yang terpasang, tetapi dari tindakan yang telah dilakukannya. Ah, semoga benar pengertian saya ya Pak Heru. Untuk cerpen lengkapnya, teman-teman bisa mengunjunginya melalui https://www.ngodop.com/2021/08/dari-gunuang-omeh-ke-jalan-lain-di.html.

4 comments

  1. Kereen reviewnya kak

    Saya baca cerpennya berkali-kali tetep kesulitan memahami, hikss

    Kudu banyak belajar ttg sastra lagi kayana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa Kak. Saya juga beberapa kali baca ngga terlalu ngeh hehe

      Delete