Ganti Judul dan ALt sendiri

Menulis Untuk Apa?


Tidak terasa, kini sudah sampai pada day 21 mengikuti 30 Day Writing Challenge (DWC). Itu artinya, sudah dua pertiga jalan terlampaui untuk sampai ke hari ketiga puluh. Kalau ditanya rasanya bagaimana, saya rasa sih nano nano. Haha. 

16 Agustus 2020, adalah hari pertama untuk memulai menulis. Saya, waktu itu memutuskan untuk memilih menulis dengan genre non fiksi. Maklum, kalau diminta menulis fiksi, saya nggak ahli dan mungkin untuk puisi saya lebih memilih untuk membacakannya saja, dibandingkan harus merangkai kata menjadi bait puisi yang syarat makna.

Mengapa saya memilih mengikuti 30DWC? Sebelumnya, di ig saya sudah banyak bersliweran teman-teman yang mengikuti challenge kepenulisan yang biasanya diselenggarakan selama 30 hari. Saya, yang sehari-harinya hanya bisa menulis status, kadang hanya menulis caption instagram yang entah kayak apa, ingin rasanya melatih skill kepenulisan sekaligus ingin tahu pengalaman teman-teman lain yang sudah lebih dahulu jago dan ahli atau bahkan sudah pernah menerbitkan buku lebih dulu. Ingin berguru lah. Hahaa...

Tema hari pertama hingga hari kesepuluh, saya lewatkan sembari melihat inspirasi yang berlalu lalang di kehidupan sehari-hari. Saya mengambil tema besar, untuk membangung komitmen kembali dalam diri yang selama ini hibernasi panjang. Dari mulai komitmen menjaga konsistensi ibadah, menyayangi bumi, belajar berempati, sampai dengan tips-tips mengurangi kebiasaan buruk yang biasa dan pernah saya alami. Pernah mentok? Sering. Wkwkwk. Ada suatu saat dimana, saya bingung banget mau nulis apa. Dan hari itu, saya sedang merebus kacang, ya sudahlah, saya tulis saja tentang makanan sehat indonesia.

Kemudian, memasuki hari kesebelas sampai ke dua puluh, sepertinya kejiwaan saya untuk menulis mulai oleng. Kalau pertiga waktu pertama, saya biasa menulis selepas waktu ashar, ya karena sebelum itu saya lebih fokus kepada pekerjaan yang dikerjakan secara online meskipun mengerjakannya harus dari rumah. Sebelum membuat laporan task wajib saya, saya sempatkan menulis di waktu ashar. ((Nyuri waktu di jam kerja wkwkwkw). Nah untuk hari kesebelas sampai keduapuluh ini, saya sering sekali baru menyetorkan bahkan mendekati waktu deadline. Terakhir, bahkan sampai pukul 23.00 saya baru menyetorkan. 

Kadang saya berfikir, hari itu sangat panjang, kenapa sih ya sukanya mepet-mepet. Hiks. Memang sih, terkadang ada beberapa hal yang harus diprioritaskan lebih dulu dibandingkan menulis ini. Tapi bukankah lebih baik menulis di awal hari ya. :(

Kembali ke topik, sebetulnya kenapa sih saya menulis?

Kalau saya sendiri merasa, saya nggak pinter ngomong. Menulis merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi, menyampaikan pesan, ataupun mentransfer nilai kepada pembaca. Saya inginnya juga sperti itu. Bahwa ada hal-hal baik yang semestinya dapat kita bagi kepada orang lain melalui menulis. Harapan saya, orang-orang yang membaca tulisan saya dapat memahami maksud yang ingin saya sampaikan. Kalau memang ada yang belum tersampaikan, itu menjadi PR saya sebagai penulis.

Masalah kita dapat menerbitkan buku, menjadi penulis terkenal, atau mendapat uang setelah mengirim artikel, itu adalah outcome yang kita dapat setelah kita benar-benar menulis dengan tulus. Ya bukan bermaksud naif ya, penulis merupakan salah satu pekerjaan yang menghasilkan uang. Namun, menurut saya, sebelum penulis melangkah lebih jauh, menjadi penting untuk memperbaiki niat dan tujuan dari awal.

Saya yakin kok, jika niat dan tujuan itu adalah kebaikan, akan banyak jalan dan langkah yang dipermudah. Berkah akan menghampiri dengan sendirinya. Ini sebetulnya adalah pengingat untuk saya pribadi. Yang baru belajar menulis. Semoga bermanfaat

Post a Comment